PENTINGNYA KREATIVITAS BAGI PRAKTISI PUBLIC RELATIONS

Oleh: Emilia Bassar

Creativity is like a muscle—the more we use it, the stronger it becomes (Stu McLaren). Ketika saya meminta mahasiswa menjelaskan definisi kreativitas dalam bentuk gambar selama 10 menit, umumnya mereka terdiam selama 3-5 menit, bingung mau menggambar apa. Pada menit kelima saya sampaikan waktunya tinggal lima menit lagi, barulah sebagian mereka mulai menggambar apa yang dimaksud dengan kreativitas. Tidak boleh ada teks dalam gambar tersebut….hanya gambar! Ternyata gambar-gambar mereka menarik, ada yang menggambar bohlam lampu, pemandangan gunung dan sawah, otak dalam kepala, tangga, dan lainnya, saya tidak ingat semua, tapi sebagian gambar mereka unik dan menarik, di luar dugaan… Lalu, saya minta mereka menjelaskan gambar masing-masing. Sebagian dari mereka bingung saat menjelaskan gambarnya dan sebagian lagi sangat lancar dan antusias saat menjelaskan gambarnya. Mereka mengaku kesulitan membuat suatu definisi dalam bentuk gambar, tapi mereka akhirnya bisa melakukannya meski di bawah tekanan….hahaha…. Bagi seorang praktisi komunikasi atau public relations (PR), berpikir kreatif is a must. Kreativitas tidak hanya dibutuhkan saat membuat rancangan program komunikasi, tapi juga saat eksekusi kegiatan. Dalam menjalankan kegiatan komunikasi, ada banyak hal tidak terduga dan tidak terencana terjadi. Seorang PR kudu (wajib, harus) memikirkan dan mencari solusinya agar kegiatan tersebut berjalan dengan baik. Orang lain tidak mau tahu masalah kita, yang mereka tahu adalah kegiatan berjalan lancar sesuai rencana. Contoh, saat kami mengundang wartawan untuk meliput kegiatan sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) jam 10 pagi (saat saya bekerja disana periode 2005-2006), pagi-pagi saya sudah menghubungi pemimpin redaksi (Pemred) atau redaktur pelaksana (Redpel) untuk mengirim wartawannya ke MK dan mengingatkan mereka akan surat undangan dan siaran pers yang kami kirim 1-2 hari sebelumnya. Sementara staf komunikasi yang membantu saya menghubungi wartawan yang biasa atau pernah meliput di MK. Kami mengingatkan wartawan bahwa sidang MK tepat waktu jam 10, please come on time…Kami juga menginformasikan kembali materi yang akan disidangkan di MK plus nilai beritanya (menurut kami…hehe…). Tidak mudah mengundang wartawan untuk datang meliput sidang di MK saat itu, karena MK baru berdiri tahun 2003 (baru berumur 2 tahun), sehingga MK belum dikenal media. Tantangan saya sebagai Tenaga Ahli Humas dan Komunikasi MK saat itu adalah membuat MK dikenal oleh masyarakat Indonesia, termasuk media massa. Berbagai cara pun dilakukan, mulai menghubungi teman wartawan dan Pemred yang saya kenal (banyak dari mereka bertanya, apa itu MK? Bedanya dengan Mahkamah Agung apa?), minta data kontak teman-teman wartawan dan redaktur yang bertugas di redaksi hukum atau nasional, melakukan kunjungan ke media, makan malam bersama para Pemred media nasional, bekerjasama dengan media untuk iklan layanan masyarakat (ILM), nonton bareng (Nobar) pertandingan sepak bola dunia, mengundang Pemred menjadi juri Cerdas Cermat UUD 1945 Bagi Penyandang Tuna Netra, dan lain-lain. Kami memberikan layanan prima buat wartawan, seperti memfasilitasi wawancara dengan Ketua MK, merespon dengan cepat pertanyaan dan kebutuhan informasi dari wartawan, memberikan fotokopi risalah sidang yang berjumlah ratusan halaman secara gratis, memberikan copy (burning) rekaman video sidang untuk wartawan TV, dan sebagainya. Tantangan lainnya adalah menulis siaran pers yang sesuai kaidah penulisan siaran pers yang saya pelajari di kampus. Ternyata tidak mudah….siaran pers yang saya tulis harus dicek dan diapprove oleh beberapa pimpinan MK. Alhasil, bolak-baliklah saya menemui para pimpinan tersebut. Ada banyak coretan…siaran pers yang direvisi (menurut saya) terkesan teknis, banyak istilah hukum tata negara yang bahkan saya pun tidak mengerti, kurang menarik untuk dibaca, dan tidak terlihat ada nilai beritanya. Meski saya sudah berusaha menjelaskannya, tapi siaran pers itulah yang harus dikirim ke media. Lalu, strategi apa yang harus saya lakukan agar siaran pers tersebut diterima oleh Pemred dan/atau Redpel, tidak dibuang atau dihancurkan di mesin penghancur kertas? Saya menghubungi para Pemred dan Redpel yang dikirimi siaran pers, lalu saya jelaskan secara singkat isi siaran pers tersebut (pada umumnya mereka tidak punya waktu untuk mendengarkan penjelasan kita). Kemudian kami menghubungi beberapa wartawan untuk dibrief isi siaran pers tersebut. Waktu terus berlalu, berbagai strategi dan taktik kreatif kami lakukan sehingga dalam waktu dua tahun mulai terlihat hasilnya…masyarakat Indonesia mulai aware akan keberadaan MK, tidak terlalu sulit menghubungi dan mengundang wartawan untuk meliput atau menghadiri konferensi pers MK, media asing mulai meliput MK, dan berbagai kerjasama MK dengan lembaga lain banyak dilakukan. Saya banyak belajar dari pengalaman membangun dan membina hubungan dengan media dan pemangku kepentingan MK lainnya, mengelola Media Center, dan menyelenggarakan berbagai event kreatif. Terima kasih pak Jimly Asshiddiqie, pak Janedjri M Gaffar, dan mas Rofiqul Umam yang sudah memberi kesempatan saya “berpontang-panting” dan bekejaran dengan waktu menyelenggarakan berbagai kegiatan komunikasi dan kehumasan di MK…sungguh pengalaman yang sangat berharga. Kembali ke tugas mahasiswa, jika kita menjelaskan definisi kreativitas dalam bentuk kata-kata (lisan atau tulisan) mungkin akan lebih mudah dibandingkan dengan mendefinisikannya dalam bentuk gambar. Itu tantangannya….kita harus mengerjakannya, dan pasti bisa! Seringkali saya dengar mahasiswa mengatakan, “Saya tidak kreatif”, lalu kenapa tidak diganti menjadi “Bagaimana caranya supaya saya kreatif?” Kata Stu McLaren (2005)Every person in the world has at least a kernel of creativity inside him or her.” Kreatifitas bisa muncul dari hasil perbincangan dengan orang lain, mengamati lingkungan, mengikuti berbagai workshop atau seminar, membaca buku, menghadiri pameran, atau menonton film. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menstimuli berpikir kreatif (creative thinking). Dalam prakteknya, berpikir kreatif dapat merupakan ide, gagasan atau pemikiran yang sederhana, tapi berdampak kuat dan efektif. Mengutip pernyataan Eric D. Brown “Think of the thinking process as a kayak with 2 paddles. One paddle represents creative thinking while the other represents critical thinking. If you were to only use one paddle (i.e. critical thinking), you’d end up going in circles. To make the kayak move forward, you’ve got to alternate between paddles.” Berpikir kreatif harus dilatih dan dipraktekkan. (Emilia Bassar, 22/03/18).

Creativity & Creative Thinking-EB

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *