MELATIH BERPIKIR KREATIF

 

Oleh: Emilia Bassar

Creativity is really believing entirely what you see and hear. But finding another angle and seeing the truth in that. That is very much part of creativity, because it means taking yourself out of the shell (Sir Peter Ustinov).

Di kelas Creative Communication Magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, salah satu tugas yang saya berikan pada mahasiswa adalah membuat creative communication plan. Konsep, teori atau materi dan contoh-contoh inspiratif sudah saya berikan. Sebelumnya, setiap hari mahasiswa diwajibkan membaca dan mengirim berita atau artikel tentang kegiatan komunikasi kreatif dari berbagai organisasi atau perusahaan.

Merancang kegiatan komunikasi kreatif membutuhkan pengetahuan, wawasan, keterampilan, dan kepekaan terhadap isu-isu yang ada di organisasi atau lingkungan sekitar. Praktisi komunikasi atau public relations (PR) harus banyak membaca, mengamati, dan mengikuti forum-forum diskusi yang relevan. Selain itu, PR juga harus mengetahui dan memahami core business, nilai-nilai, dan kebijakan organisasi atau perusahaan dengan baik, sehingga creative communication yang dirancangnya sesuai dengan tujuan dan agenda organisasi.

Ide kreatif bisa muncul dari film, konser musik, pameran, launching produk baru, atau special event. Contoh, saat saya bekerja di Mahkamah Konstitusi (MK) tahun 2006, Ketua MK Jimly Asshidiqqie meluncurkan UUD 1945 dalam huruf braille, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2006. Kegiatan ini diselenggarakan di Gedung Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dan dihadiri oleh Mendiknas Bambang Sudibyo dan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Ini ide yang brilian!

Peluncuran UUD tersebut menimbulkan gagasan untuk menyelenggarakan lomba cerdas cermat UUD 1945 dalam huruf braille. Maka, saya pun mengajukan proposal lomba tersebut dan diajukan ke Pimpinan MK. Awalnya ide tersebut dinilai tidak masuk akal, sulit dilaksanakan dan tidak bermanfaat oleh sebagian orang. Namun, saya meyakinkan mereka bahwa saya akan memikirkan caranya dan membangun komunikasi dengan pemangku kepentingan terkait. Saya mulai mendatangi direktorat di Depdiknas yang menangani sekolah kebutuhan khusus dan melakukan pertemuan dengan pegiat penyandang tuna netra. Setelah beberapa kali meeting untuk membicarakan materi, soal, dan penilaian lomba, serta tim juri, peserta dan teknis pelaksanaan lomba, maka lomba “Cerdas Cermat Pemahaman UUD 1945 bagi Tuna Netra” diselenggarakan pertama kali di MK bulan Agustus 2006. Lomba ini diikuti oleh siswa SLB Tuna Netra di Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan HUT MK ketiga tanggal 13 Agustus 2006 dan diselenggarakan hari Sabtu dan Minggu, sehingga perlu dipikirkan strategi untuk mendapatkan publikasi yang luas. Maka, kami pun mengundang pemimpin redaksi secara bergantian sebagai Tim Juri. Selain itu, kami mengirim undangan dan siaran pers ke media unutk meliput lomba ini. Ternyata penyelenggaraan hari Sabtu dan Minggu dengan kegiatan yang unik mengundang media cetak, radio dan TV untuk meliputnya. Kegiatan ini dinilai media mempunyai unsur human interest dengan cerita pengalaman para peserta dan juara yang beragam dalam mengikuti lomba. Diantaranya adalah cerita salah satu rombongan finalis yang mengalami kecelakaan dari arah Bandung ke gedung MK saat mengikuti lomba. Beberapa guru dan siswa, termasuk salah seorang peserta dirawat di rumah sakit. Dan, hanya dua siswa dari tiga siswa peserta finalis yang berhasil tiba di MK dan mengikuti lomba tingkat final. Hasilnya adalah, peserta dari Bandung tersebut mendapatkan juara 3. Luar biasa!

Ada banyak pelajaran, cerita dan hambatan dari penyelenggaraan lomba tersebut. Namun, keinginan dan motivasi yang kuat memudahkan kita untuk melaksanakannya. Karena kreativitas tidak hanya sebatas ide atau gagasan, kreativitas harus diwujudkan. Untuk mewujudkan ide kreatif, kita bisa melatihnya melalui beberapa permainan, yaitu:

  1. Random word. Kata acak (random word) digunakan untuk memicu atau mengalihkan pola pemikiran yang menghambat suatu ide/gagasan. Kata acak juga digunakan untuk merangsang ide-ide kreatif di luar apa yang sudah lazim (umum). Kita bisa melatihnya dengan membuka satu buku, lalu tutup mata dan tunjuk tulisan di salah satu halaman buku. Saat membuka mata, dilihat kata apa yang kita tunjuk. Kemudian, buatlah beberapa kalimat yang berbeda dengan menggunakan kata tersebut.
  2. Metode berpikir kreatif ini merupakan kepanjangan dari S=Substitute (Mengganti sesuatu dengan sesuatu yang biasa kita lihat atau sesuatu yang tidak selalu kita pikirkan), C=Combine (Menggabungkan dua atau lebih untuk menciptakan hasil yang berbeda), A=Adapt(Mengadaptasi ide yang sudah ada), M=Modify (Mengubah atau melakukan perluasan ide yang akan memberikan nilai tambah atau wawasan baru), P=Put to Other Uses (Menempatkan ide saat ini ke dalam bentuk lain), E=Eliminate (Menghilangkan, mengurangi atau menyederhanakan sehingga lebih fokus pada bagian atau fungsi yang paling penting), dan R=Rearrange/-Reverse (Mengatur atau menyusun ulang sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada, sehingga dapat memberikan nilai tambah dibandingkan dengan sebelumnya). Teknik ini berfungsi untuk mengembangkan ide-ide kreatif dalam menyelesaikan sebuah permasalahan dengan menghasilkan sesuatu yang inovatif, kreatif dan unik. Contohnya dapat dilihat pada penggunaan creative thinking SCAMPER untuk produk coklat Smarties (lihat https://www.youtube.com/watch?v=G8w0rJhztJ4).
  3. Role storming. Teknik ini pertama kali dicetuskan oleh Rick Griggs sekitar tahun 1980an. Role storming lahir dari fenomena yang dicermati oleh Giggs tentang sulitnya mengeluarkan ide ide kreatif pada saat melakukan brainstorming yang disebabkan oleh rasa malu atau canggung dalam mengeluarkan pendapat dalam kelompok. Dengan berbicara atas nama orang lain atau peran yang berbeda dengan dirinya, maka seseorang akan lebih mudah dan leluasa untuk mengeluarkan ide kreatifnya. Contoh, Anda bekerja di perusahaan jalan tol yang mempunyai beragam masalah, seperti kebijakan pembayaran non tunai, integrasi jalan tol, kemacetan parah, kecelakaan, dan tindakan kriminal di jalan tol. Berikan solusi terhadap masalah tersebut bila Anda mempunyai peran yang berbeda, yaitu sebagai PR Head, Operational Management Head, Customer Relations Head, atau Kepala Cabang.

Beberapa teknik dalam proses berpikir kreatif tersebut dapat dimainkan oleh satu orang atau berkelompok. Bagi praktisi PR, perlu mencoba teknik-teknik tersebut untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, mencoba ide baru yang sebelumnya belum pernah ada, dan mencari solusi kreatif bagi berbagai masalah. (EB, 30/03/18).

 

Creative Thinking Process & Techniques

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *