Heibogor.com – Memperingati hari bumi yang jatuh tanggal 22 April sekaligus membangkitkan kesadaran dan meningkatkan pengetahuan akan isu-isu energi terbarukan di Indonesia, Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) mengadakan seminar diskusi Climate Communication Forum (CCF) ketiga bertemakan “Renewable Energy to Save Earth from Climate Change” di CPROCOM Vila Citra Bantarjati Blok G3 No.23, Minggu (21/04/19).

Saat ini fungsi ekosistem bumi sedang mengalami ancaman serius dari dampak negatif perubahan iklim. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca (seperti CO2) akibat aktivitas manusia.

CO2 ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang panjang yang dipancarkan bumi, sehingga panas tersebut akan tersimpan pada permukaan bumi. Hal ini akan terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata permukaan bumi terus meningkat.

Perubahan iklim dapat mempengaruhi ekosistem alam dan manusia dan menimbulkan dampak–positif maupun negatif–pada hampir semua sektor pembangunan. Tingkat keparahan dampak bervariasi antar negara dan bersifat lokal, tergantung pada kondisi sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan biofisik. Dengan demikian, maka pengelolaan perubahan iklim harus mensinergikan upaya mitigasi untuk pengendalian penyebab dan upaya adaptasi untuk manajemen risiko dan manfaat.

“Kegiatan CCF diselenggarakan dalam rangka Hari Bumi 22 April yang merupakan momentum bagi warga bumi untuk meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian alam,” ucap Founder CPROCOM sekaligus Climate Communication Practitioner, Emilia Bassar kepada heibogor.com disela-sela acara.

Sumber utama penghasil emisi CO2 secara global selain pembakaran bahan bakar fosil oleh kendaraan bermotor adalah pembangkit listrik bertenaga batubara. Indonesia berpotensi untuk menghasilkan 716 GW energi dari solar photovoltaic (solar PV), hydropower, bioenergi, geotermal, tenaga gelombang laut, dan angin.

Namun kekayaan energi terbarukan (renewable energy) yang melimpah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Penggunaan energi fosil di Indonesia masih mendominasi, yang secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer.

Pemerintah dan dunia usaha perlu meningkatkan investasi, riset dan pengembangan untuk menghasilkan teknologi dan produk energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan komitmen sukarela pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), terutama CO2, dari sektor energi sebagai bagian dari upaya global memerangi perubahan iklim.

Menurut Journal of Electrical Tecnology, pembangkit listrik ini membuang energi dua kali lipat dari energi yang dihasilkan. Energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, enegi yang terbuang adalah 65 unit. Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton CO2 per tahun.

Namun demikian, pemerintah tengah berupaya serius menggarap sumber-sumber energi terbarukan sebagai salah satu upaya pengurangan emisi CO2. Hingga saat ini telah banyak dikembangkan pembangkit listrik dengan menggunakan tenaga angin dan air.

Bahkan sejak tahun 2012, PT. PLN Persero mulai menggarap ratusan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) dengan nilai investasi sekitar 2.500 dolar AS atau Rp 23,3 juta per KwH. Proyek ini dikerjakan PLN dengan menggandeng pihak swasta.

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) KemenESDM juga telah melakukan penerapan ISO 50001 Energy Management System di industri besar sejak tahun 2014 bekerjasama dengan The United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).

Sementara Joint Crediting Mechanism (JCM) di bawah koordinasi Kementerian Koordinasi Bidang Ekonomi telah menyelenggarakan berbagai peningkatan kapasitas tentang energi terbarukan sejak tahun 2014.

Untuk mencapai keberhasilan pembangunan dan pengembangan energi terbarukan, tentu saja tidak hanya soal kebijakan, akan tetapi dukungan infrastruktur dan gotong royong berbagai pihak terkait (stakeholders). “Dibutuhkan komitmen, komunikasi dan kolaborasi antar pemerintah, pihak swasta, pelaku bisnis energi, pegiat lingkungan, LSM, jurnalis, dan pemuda untuk terus mendorong pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” tambah Emilia.

Penasihat di Proyek Joint Crediting Mechanism (JCM) Dicky Edwin Hindarto menyatakan, dampak perubahan iklim dan pemanasan global semakin nyata dirasakan oleh masyarakat di berbagai penjuru dunia. Perubahan iklim dan pemanasan global dipicu oleh terus melonjaknya emisi gas rumah kaca yang salah satunya disumbang oleh sektor energi.

Dicky juga menyatakan dibalik tantangan peralihan ke energi terbarukan, terdapat manfaat nyata yang akan semakin menghijaukan dunia. Manfaat tersebut adalah meningkatnya pertumbuhan ekonomi, terciptanya lapangan kerja, terwujudnya kota yang lebih sehat dan bersih, serta meningkatnya kualitas hidup masyarakat.

Dari sisi ekonomi, transisi ke energi terbarukan juga berguna bagi kesehatan dan lingkungan. Nilai manfaat kesehatan dan lingkungan tersebut, lima kali lipat lebih besar dari biaya yang diperlukan untuk mempercepat peralihan dari energi fosil. Ekonomi juga akan menguat menciptakan setidaknya 40 juta lapangan kerja yang terkait dengan efisiensi dan energi terbarukan.

Upaya-upaya peningkatan kapasitas, public awareness, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan berikutnya. CCF dapat menjadi ajang komunikasi dan sarana bertukar informasi antar stakeholders untuk turut berpartisipasi dalam upaya implementasi energi terbarukan.

(rhm) dimuat di Heibogor.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

WHATSAPP US whatsapp