“Jadi,mungkin mereka melihat bahwa perubahan iklim adalah suatu yang alamiah. Memang betul kita tidak bias mencegah terjadinya gunung meletus atau hal-hal seperti itu. Tapi ada faktor manusia dalam perubahan iklim yang harusnya bias dikurangi dengan melakukan perubahan pada gaya hidup,” tuturnya.

Sejak bergabung di YIBB, Iskandar memanfaatkan passion-nya di bidang film dokumenter sebagai alat untuk menjangkau masyarakat mengenai krisis iklim yang sedang terjadi. Film dokumenter menurut Iskandar layak menjadi attractive tools untuk menyampaikan pesan tentang perubahan iklim karena saat ini sudah memasuki era democreatization of film making.

Hal ini membuat banyak orang sudah memiliki tools untuk membuat film dan memiliki kesempatan agar suaranya bisa didengar. Selain itu, film dokumenter saat ini mudah diakses dengan banyaknya platformonline untuk menonton film.

“Sekarang orang-orang lebih senang menonton, mengkonsumsi film, daripada membaca hasil riset secara ilmiah. Kedua, topik-topik mengenai perubahan iklim itu banyak, tapi juga tidak habis-habisnya untuk diangkat karena pada akhirnya semua berkaitan,” katanya.

YIBB saat ini sedang menyelesaikan beberapa film dokumenter singkat tentang perubahan iklim.Salah satu filmnya mengangkat tentang climate action di komunitas yang dihuni oleh orang-orang adat. Orang-orang ini sangat rentan terhadap perubahan iklim, tetapi disisi lain juga memiliki kunci untuk meredakan dampak perubahan iklim. Orang adat ini memiliki value “tanah itu ayah, hutan itu ibu, air itu darah” yang membuat mereka memiliki kunci tersebut.

Kedekatan mereka dengan hutan menjadikan mereka sangat persisten untuk menjaga hutan tersebut. Value lain yang mereka pegang teguh adalah larangan untuk menebang pohon lebih dari 30 batang pohon/keluarga/tahun. Hal ini menyebabkan hutan mereka tetap hijau. Selainitu, mereka juga memiliki mindset yang diturunkan ke generasi muda yang mirip dengan filosofinya orang Swedia yaitu “tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Jangan ambil terlalu banyak dan jangan ambil terlalu sedikit juga. Value tersebut menarik untuk diangkat menjadi film karena mereka adalah masyarakat adat, namun ecological awareness mereka lebih tinggi jika dibandingkan diri kita.

Indonesia yang kaya akan keunikan memiliki banyak topik tentang perubahan iklim yang bisa diangkat. Dapat dilihat dari budayanya, kehidupan sehari-hari, persepsi masyarakat tersebut, termasuk juga dari ecological issue.

Langkah Mengawali Produksi Film Dokumenter

Sebelum memulai proses produksi, yang terpenting adalah menemukan trigger untuk menjadi inti dari film tersebutagar berjalan dengan natural. Tidak kalah penting, 5W+1H (who, what, where, when, why, how) juga harus diperhatikan. Melalui hipotesa yang sudah dibuat, lakukan riset untuk mencari cerita dan karakter di film tersebut. Karakter ini akan menjadi penyampai, siapa yang akan tampil di situ? Siapa yang akan menjadi pembawa pesan di situ? Riset ini dilakukan dengan membuat sinopsis pendek, wawancara, mengambil gambar, dan aktivitas di lapangan. Setelah 5W+1H didapatkan, elemen lainnya dapat diikutsertakan, seperti menambahkan musik, menambahkan struktur, dan meningkatkan elemen artistiknya. Walaupun seperti itu, tetap harus disertakan pula informasi aktual yang ingin disampaikan.

Pendanaan untuk menunjang produksi tidak kalah penting. Cara untuk mendapatkan pendanaan saat ini banyak, seperti mengajukan grand proposal kepada NGO (non-governmental organization) atau pihak yang dapat memberikan grand. Hal ini membuat para praktisi film harus aware dengan lembaga seperti itu dengan mencari info, misi dari lembaga tersebut, objektifnya apa, dan bagaimana projek film ini memberikan value untuk lembaga yang menjadi target proposal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

WHATSAPP US whatsapp