Pembicara Herry Ginanjar (pakar ESG) dan Emilia Bassar (Climate Reality Leader & CEO CPROCOM), dan bawah: pembicara Linda Gurning (pakai Sustainabilty) dan moderator Ratna Kartika (Majalah PR Indonesia) pada webinar Climate Communication Forum (CCF) bertemakan “Emphasizing the S (Women) in The ESG Communication” yang diselenggarakan oleh Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) hari Jumat 22 April 2022 di Bogor melalui zoom meeting.

Bogor, 22 April 2022—Memperingati Hari Kartini 21 April 2022 dan Hari Bumi 22 April 2022, Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) menyelenggarakan Climate Communication Forum (CCF) bertajuk “Emphasizing the S (Women) in The ESG Communication” hari Jumat 22 April 2022 jam 09.00-11.30 di Bogor melalui zoom meeting. Kegiatan webinar ini merupakan kerjasama dengan The Climate Reality Project Indonesia, PT Mitra Pajakku, dan Majalah PR Indonesia.


“ESG (Environmental, Social and Governance) telah menjadi isu utama dan barometer bagi perusahaan untuk dapat bertahan sejak pandemi Covid-19. Terjadinya pandemi membuat perusahaan tidak lagi diukur hanya dari program CSR. Tetapi, strategi ESG perlu diimplementasikan dalam kebijakan dan budaya perusahaan yang bertujuan untuk pengurangan karbon dan emisi,” ujar Dr. Emilia Bassar—yang biasa dipanggil Emil—selaku pendiri dan CEO CPROCOM yang juga bertindak sebagai narasumber di webinar tersebut.


Emil lantas menjelaskan, CCF menjadi bagian dari upaya global untuk mengkomunikasikan secara terus menerus, masif, dan intensif melalui para narasumber dari kalangan praktisi, akademisi, pelaku bisnis, aktivis, pejabat pemerintah, dan pemuda untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktek, baik terkait isu perubahan iklim dan lingkungan maupun pembangunan berkelanjutan. Hal ini tidak mudah karena beragamnya interest dan tingkat pemahaman audiens akan isu perubahan iklim,
dampaknya bagi kehidupan, serta solusinya yang dapat kita lakukan.


“CCF mengambil peran bagaimana mengkomunikasikan isu-isu tersebut, dengan harapan dapat menggerakkan perusahaan atau organisasi mengambil bagian dan peran dari upaya besar menjaga dan merawat bumi, khususnya dalam mendukung peran perempuan dalam mengatasi perubahan iklim,” jelas Emil.

Linda Gurning, praktisi Sustainability, menegaskan bahwa perempuan adalah aktor yang berperan besar dalam proses konservasi bumi guna mencegah krisis iklim lebih parah. “Perempuan lebih peduli dengan lingkungan hidup dan punya opini yang cukup kuat terhadap krisis iklim, terutama yang berhubungan dengan kesehatan. Hal ini wajar karena di Asia, perempuan punya fungsi domestik merawat keluarga, anak, dan orang tua. Konservasi lngkungan ini sangat memengaruhi kesehatan,” ujar Linda.


ESG dan Perempuan
ESG dan sustainability merupakan kemampuan humankind untuk dapat hidup di masa depan dengan cita-cita yang diinginkan masyarakat. ESG sendiri merupakan framework investasi yang membantu investor menilai kinerja dan risiko perusahaan. Prinsipprinsip ESG mempertimbangkan, mengukur, dan  pelaporkan aspek lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola (governance) bisnis  perusahaan di samping mempertimbangkan keuangannya. Program ESG selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.

ESG tidak hanya dilihat sebagai tantangan perusahaan jika perusahaan belum siap atau karena frameworknya yang kompleks. Namun, ESG perlu dilihat sebagai peluang dalam meningkatkan ketertarikan investor untuk meningkatkan investasi, sehingga dapat menguntungkan pemangku kepentingan perusahaan.

Herry Ginanjar, pakar ESG, mengatakan bahwa investor akan melihat bagaimana sebuah perusahaan memperlakukan perempuan sebagai wujud keberagaman dan mendukung SDGs poin 5, yaitu kesetaraan gender.


“Dalam berkomunikasi dengan pemangku kepentingan, termasuk kelompok perempuan, perusahaan harus mendudukkan perempuan sebagai subyek. Komunikasi dengan pendekatan multi-stakeholder participation akan membangun terciptanya ekosistem melalui program ESG,” ujar Herry.


Emil menambahkan bahwa perusahaan atau organisasi dapat melakukan survei untuk menetapkan baseline kesadaran perempuan yang berfungsi untuk merancang program komunikasi ESG bagi perempuan.


“Kita juga bisa memberikan wadah untuk dialog dan feedback perempuan terkait isuisu ESG, dan memfasilitasi kemitraan,” jelas Emil.


Linda memberikan beberapa rekomendasi terkait perempuan dan ESG, yaitu: penerapan kebijakan gender yang mencakup Gender Action Plan (GAP), pemilahan data berbasis gender untuk situasi risiko perubahan iklim, peningkatan kapasitas dan pemahaman mengenai gender bagi pembuat kebijakan, alokasi dana khusus bagi perempuan untuk mengatasi kerentanannya dalam krisis iklim, dan menerapkan mekanisme dan pendekatan proaktif kepada perempuan.


Strategi Komunikasi ESG
Untuk membangun strategi komunikasi ESG yang efektif, Emil menjelaskan, perencanaan strategi komunikasi ESG dimulai dari research dan analisis situasi dengan menggunakan PESTLE (Political, Economic, Social, Technological, Legal, Environmental) misalnya. Tahap selanjutnya adalah menentukan SMART Objectives, menyusun key messages, serta menentukan audiens, media, dan taktik komunikasi yang kreatif dan terukur. Strategi komunikasi ESG bertujuan untuk meningkatkan minat investor, komunikasi yang transparan dan empatik, serta menyampaikan metrik pengukuran ESG organisasi (EB/AII).


Dikeluarkan oleh : CPROCOM (0811 119 2468, cprocom.info@gmail.com)
Contact person : Emilia Bassar (0816 190 4994, emiliabassar@gmail.com)


Kegiatan CCF ini dapat ditonton di Youtube CPROCOM:
https://www.youtube.com/watch?v=3IJTJupBxf

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code