Teknik Presentasi yang WOW

Bogor, CPROCOM—Creative People pasti sudah tidak asing lagi dengan presentasi ya?  Karena sejak bangku sekolah dasar kita sudah sering melakukannya. Melakukan presentasi di depan publik tidak hanya sekedar menggabungkan teks dan gambar kemudian kita sebagai presenter menjelaskannya. Tetapi, kita perlu memperhatikan kenyamanan dan kemudahan audiens dalam menerima materi yang kita sampaikan. Kita juga perlu memastikan bahwa informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik dan menarik bagi audiens. Bagaimana cara melakukan presentasi yang efektif dan WOW?

Pada 11 Oktober 2020, Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) mengadakan online training bertemakan Public Speaking for Professional. Pada training ini, beragam materi disampaikan untuk menunjang kemampuan public speaking peserta training, diantaranya adalah materi “Teknik Presentasi yang WOW” yang disampaikan oleh Dr. Emilia Bassar atau biasa disapa Emil.

Menentukan dan mendalami topik merupakan hal yang wajib dilakukan sebelum melakukan presentasi. Ketika kita sudah memiliki topik yang akan dipresentasikan, kita harus mendalami materinya dua hingga tiga kali lebih banyak dari yang akan dipresentasikan. Apalagi ketika kita diberikan kebebasan untuk menentukan topik, maka sebaiknya topik yang disampaikan adalah topik yang kita miliki pengetahuannya, punya pengalaman praktisnya, dan menguasai permasalahannya. Akan tetapi, ketika kita diminta untuk menyampaikan sesuatu yang minim kita ketahui, maka kita harus belajar cepat untuk mendalami topik tersebut dan mempelajari dengan baik referensinya.

Emilia Bassar menyampaikan materi penyusunan Strategi Komunikasi Publik bagi 100-an peserta Dinas Kominfotik di 34 Provinsi pada kegiatan Bimbingan Teknis Kementerian Kominfo secara hybrid (luring dan daring) di Denpasar-Bali, 16 Juni 2021.

Hal lain yang kita siapkan dan rancang adalah Know and Engage Audience”. Menjadi seorang presenter tidak hanya sebatas berbicara kemudian selesai. Kita harus mengenal siapa audiens kita, darimana mereka berasal, berapa jumlahnya, apa pekerjaan mereka atau yang biasa mereka lakukan, dan lainnya. Kita harus memiliki kemampuan berpikir secara strategis sehingga saat kita presentasi, kita dapat melibatkan audiens meskipun dalam waktu yang sempit. Apabila engagement kepada audiens tidak dilakukan, maka kita tidak mengetahui apakah audiens paham akan informasi yang kita sampaikan, apa yang mereka pikirkan atau rasakan, dan bagaimana pendapat mereka terhadap materi yang kita paparkan.

Engagement atau melibatkan audiens dapat dilakukan dengan, antara lain, memberikan pertanyaan di awal sesi presentasi, memberikan kesempatan pada audiens untuk bertanya, dan/atau meminta audiens menyampaikan pendapatnya melalui tulisan atau gambar. Cara engagement dari setiap presenter atau public speaker bisa berbeda, yang terpenting adalah bagaimana membuat audiens nyaman saat berinteraksi dengan kita. Jangan lupa untuk memberikan apresiasi kepada audiens yang sudah memberikan feedback atau bertanya. Pemberian apresiasi ini penting agar interaksi dan engagement yang dilakukan semakin baik. Tentunya kita harus memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta, jangan sampai kita terfokus hanya kepada satu atau dua orang saja.

Emilia Bassar melibatkan peserta pelatihan Stakeholders Mapping and Issues Management melalui simulasi, games dan praktik bagi Tim Komunikasi Petronas di Jakarta, 16-17 Desember 2019.

Ada beberapa tipe audiens yang perlu kita ketahui dan bagaimana strategi penanganannya. Pertama, tipe “Sniper” yang memberikan kesan sinis terhadap kita atau topik kita, dan memulai dengan sikap permusuhan. Mereka sering menaruh perhatian dan mendengarkan apa yang kita sampaikan untuk mencari kesempatan yang tepat guna menyampaikan kritik.   Audiens ini bisa saja memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik dari kita, lebih senior dari kita, atau jabatannya lebih tinggi dari kita. Saat menghadapi tipe “Sniper” ini, kita harus tetap tenang, fokus pada materi, dan ingat bahwa audiens seperti ini mungkin hanya 1% dari total audiens yang hadir. Sehingga jangan sampai fokus kita terganggu dan kemudian merugikan 99% audiens lainnya. Saat tipe Sniper” bertanya atau memberikan tanggapan, kita berikan jawaban yang langsung pada inti permasalahan disertai data yang akurat. Tak lupa ucapkan terima kasih dan beri apresiasi bila pertanyaan atau tanggapannya bagus dan menarik. read more

Pentingnya Menyusun Strategi Komunikasi yang Sistematis dan Terukur

Bogor, CPROCOM—Sudah lebih dari satu tahun pandemi Covid-19 membayangi Indonesia sehingga masyarakat harus beradaptasi dengan kegiatan yang serba daring. Tak terkecuali bagi Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM). CPROCOM tidak berhenti untuk menjadi wadah bagi masyarakat Indonesia dalam mencari ilmu melalui pelatihan-pelatihan daring (online) seperti yang…

Film Dokumenter untuk Kampanye Perubahan Iklim


Bogor, CPROCOM—Climate People, bulan November 2020 hingga Februari 2021, CPROCOM berkolaborasi dengan Yayasan Indonesia Bersih Berkelanjutan (Clean Indonesia) membuat program siaran langsung (live streaming) melalui Instagram Live bernama Bincang Bumi. Program ini membahas seputar lingkungan hidup, perubahan iklim, dan komunikasi perubahan iklim dengan mengundang Tamu Bumi (sebutan narasumber) yang sudah memberikan kontribusi nyata dalam melindungi bumi.

Yayasan Indonesia Bersih Berkelanjutan (YIBB) baru didirikan awal tahun 2020 dengan tujuan untuk mengedukasi public mengenai krisis iklim dan isu berkelanjutan. Tidak hanya cara penanganannya perubahan iklim saja, melainkan turut melestarikan bumi.

Tema perdana IG Live Bincang Bumi ini, Kamis 12 November 2020, adalah ‘Kampanye Perubahan Iklim melalui Film Dokumenter’ bersama Iskandar Julkarnaen yang pada saat itu menjabat sebagai Executive Director YIBB, dengan Penyiar Bumi (sebutan host) adalah Dr. Emilia Bassar (CEO CPROCOM dan praktisi komunikasi perubahan iklim). Sebelumnya, Iskadar merupakan seorang wartawan dan pernah menerbitkan sebuah buku, serta beberapa skenario TV dan film pendek.

Sebelum terjun ke dunia kampanye perubahan iklim melalui film dokumenter, Iskandar sudah membuat film dokumenter dengan subjek filmnya adalah komunitas Konghucu di Tangerang, yaitu China Benteng. Pembuatan film ‘Cerita Sehari di Ranca Kelapa’ ini diawali ketika Iskandar dan temannya menghadiri upacara pernikahan tengah malam yang disebut Ciaotao. Upacara pernikahan ini merupakan pernikahan khas Konghucu. Karena pernikahan tersebut menarik, Iskandar dan temannya merekam upacara pernikahan itu, namun belum ada cerita yang dapat mendeskripsikan rekaman tersebut.

Setelah mengunjungi komunitas itu, Iskandar dan temannya membuat film ‘The Last Confusion’ dan ‘Cerita Sehari di Ranca Kelapa’. Kemudian film ‘Cerita Sehari di Ranca Kelapa’ ini memenangkan dua penghargaan. Setelah diikutkan pada beberapa festival film, ternyata film dokumenter pertama ini terus memenangkan penghargaan. Dari pengalaman itulah akhirnya Iskandar berpikir bahwa ada sesuatu yang menarik dari film itu dan mulai terjun dengan serius ke dunia dokumenter.

Film Dokumenter dan Perubahan Iklim

Menurut Iskandar, berdasarkan research yang dilakukan oleh Yougov Cambridge Globalism Project tahun 2019, Indonesia berada di urutan pertama sebagai Negara terbanyak penduduknya yang merupakan climate deniers. Artinya, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak percaya bahwa perubahan iklim itu tidak ada sangkut pautnya dengan manusia.

read more

Yuk, Gabung di Online Training Creative Communication Strategy!

Halo Creative People! Komunikasi merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berorganisasi. Dalam menyusun strategi komunikasi, kita perlu mengembangkan cara yang tepat agar pesan tersampaikan dengan baik kepada audiens sesuai dengan tujuan. Di kelas Creative Communication Strategy ini, anda akan belajar menyusun strategi komunikasi yang…

Kepedulian Masyarakat untuk Kelola Sampah Medis Sekali Pakai Masih Kurang

Bogor, 01 Maret 2021–Kegiatan Bincang Bumi CPROCOM yang diselenggarakan Kamis 25 Februari 2021  mengambil topik “Komunikasi Lingkungan untuk Pengelolaan Limbah Medis.” Tamu Bumi kali ini adalah ibu Ir. Sri Bebassari, M.Si. (Ketua Dewan Pembina Indonesia Solid Waste Association) dan Yogi Ikhwan (Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta), dengan…

Grow Your Skills in 2021 with Online Training

Halo, Creative People! Siapa yang kangen sama pelatihan-pelatihan CPROCOM? Acung tangannya~ 🙋‍♀️🙋‍♂️ Mulai Februari 2021, CPROCOM buka lagi kelas online training😃 Setiap kelas berisi 8 materi yang bisa kamu ikuti di hari Sabtu dan Minggu. Berbagai manfaatnya:1. Pertemuan online (live teaching) dan praktik/latihan langsung bersama trainer yang ahli…

Saling Belajar di CPROCOM

Yeaay....mulai bulan September 2020, CPROCOM punya program baru "Saling Belajar di CPROCOM" ?????? bagi trainer, peserta pelatihan, dan volunteer CPROCOM. Kita akan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang komunikasi, PR, komunikasi perubahan iklim, dan topik lainnya yang terkait dengan materi-materi pelatihan CPROCOM. Ingin tahu seperti apa kegiatannya? Yuk,…

#7 CPROCOM Climate Communication Forum 6 “Cara Kreatif Kampanye Peduli Lingkungan”

Sabtu, 27 Juni 2020..Didie Diah N (Volunteer Seasoldier Jakarta, Co-Founder Petualang Inspiratif):.“Komunitas Seasoldier Jakarta menggunakan media sosial yang digabung dengan aksi nyata.”.“Foto dan postingan kita yang sederhana dapat membuat dampak. Contohnya postingan kita di akun instagram yang memuat foto berlatar belakang tumpukan sampah di Teluk Jakarta, kemudian dilihat…

#6 CPROCOM Climate Communication Forum 6 “Cara Kreatif Kampanye Peduli Lingkungan”

Sabtu, 27 Juni 2020..Ir. Yatri Indah Kusumastuti, M.S. (Kepala Biro Komunikasi IPB University):.“Tantangan terbesar dalam memastikan stakeholder utama, yaitu mahasiswa, paham akan nilai lingkungan di kampus adalah pembentukan karakter mahasiswa yang harus dilakukan berulang-ulang, karena mahasiswa-mahasiswa baru datang setiap tahun. Taktik IPB dalam kampanye green campus adalah membuat…

WHATSAPP US whatsapp